CMS – RESTART

 

restart[‘rēstärt]

after all, you know that it’s a new beginning

 

Seoul, summer 2016…

Yeah, the weather is really nice here. Neomo joha.” Aku berjalan santai, menyusuri Myoengdong street yang penuh dengan kerumunan orang bermata sipit dan mostly menenteng kantung belanjaan di tangan mereka masing-masing. Myeongdong—salah satu distrik perbelanjaan yang terletak di jantung kota Korea Selatan ini memang tak pernah sepi dari pengunjung, apalagi jika weekend tiba. Baik pengunjung dari dalam maupun luar negeri bertumpah ruah di sini, entah untuk berbelanja, berjalan-jalan, atau bahkan sekadar menikmati jajanan pasar khas Korea seperti tteokbokki dan odeng.

Aku—salah satu di antara pengunjung itu, hari ini datang untuk tujuan tertentu; membeli oleh-oleh. Menurut list pesanan yang kucatat, sebagian besar request oleh-oleh yang harus kubawa saat kembali ke Jakarta besok sore adalah kosmetik. Dan karena di Myeongdong berjejer puluhan toko kosmetik—mulai dari Nature Republic, Etude House, The Face Shop, Missha, dan lain-lain—pada akhirnya aku pun memutuskan untuk mendatangi tempat ini demi memenuhi pesanan oleh-oleh tersebut.

“Iya, aku lagi di Myeongdong cari oleh-oleh. Emangnya kamu mau apa, Nik? Jangan minta yang aneh-aneh ya.” Mataku menelusur, mencari dengan jeli jenis oleh-oleh apa yang seharusnya aku belikan untuk Nikky—orang yang kini sedang bicara denganku lewat telfon. Tujuanku datang ke Myeongdong memang membeli kosmetik untuk oleh-oleh, tapi nggak mungkin juga kan aku bawain oleh-oleh berupa kosmetik untuk cowok seperti Nikky?! Kalau hal itu sampai terjadi, aku yakin dia pasti bakalan protes dengan nada mengejek, “Svida, terima kasih atas oleh-olehnya, tapi kamu tahu kan, aku bukan pecinta BB cream seperti boyband-boyband Korea kesayangan kamu itu, huh?”

Hahaha, yang benar saja, memangnya siapa yang punya boyband kesayangan?

“Heh? So Nyeo Shi Dae ?! Changnan anya.” Kemudian aku reflek menghentikan langkah tepat di depan lapak seorang ahjumma yang menjual sweater hangat berbagai macam bentuk, warna, dan motif menarik. Plang harga 10.000 won atau setara dengan seratus sampai seratus duapuluh ribu rupiah yang dipajang besar-besar di lapak jualannya tiba-tiba saja menarik perhatianku. Well, not bad. Sepertinya aku sudah menemukan oleh-oleh apa yang kurasa cocok untuk Nikky.

“Nik, seriously, aku bukan anak presiden atau pejabat kaya raya yang bisa bawain kamu oleh-oleh berupa sembilan—okay delapan wanita cantik berkaki jenjang macam SNSD ya. Hah, yang bener aja.” Aku mengambil salah satu sweater berwarna kuning kunyit dan kemudian melihat-lihatnya dengan detail. Bahannya, kulaitas jahitannya, modelnya, semuanya not bad. Well, seem like I will take this one. Selain harganya terjangkau—iya aku kan baru lulus kuliah dan belum bekerja, jadi wajar dong kalau masih mencari barang-barang murah—, aku yakin Nikky juga menyukainya.

Setelah mantap untuk membeli sweater di tanganku ini, aku pun segera merogoh tas dan mengambil dompet. Ahjumma di depanku tersenyum ketika aku menyerahkan selembar uang 10.000 won untuk membayar. Aku pun membalas senyumnya dengan ramah. “Ahjumma, pojanghae juseyo.”

“Ne.”

“Kamsahamnida.”

Sang ahjumma memasukkan sweater Nikky ke dalam tas karton polos tanpa merk lalu mengulurkannya kepadaku. Aku menerima uluran tas karton itu seraya menunduk pelan, mengucapkan terima kasih sekali lagi sebelum beranjak pergi. Well, satu oleh-oleh selesai. Sekarang waktunya aku pergi mencari oleh-oleh selanjutnya. Mungkin di antara sekian banyaknya toko kosmetik yang berjejer di sepanjang jalan ini, aku akan memilih untuk mendatangi Nature Republic saja. Bukan apa-apa, but seriously, spanduk besar bertuliskan all item discount 10% yang dipajang di depan tokonya benar-benar menarik minatku. Yeah, again, aku memang mencari barang yang murah.

“Hey, aku bicara dalam bahasa yang seharusnya. Justru kalau aku bicara pakai bahasa Indonesia, aku yang dibilang aneh di sini.” Nikky, yang masih tersambung dalam panggilan telfon international denganku sibuk menertawai nada dan gaya bicaraku dengan ahjumma penjual sweater tadi yang katanya sudah benar-benar berubah dari yang terakhir kali dia dengar. He said that my accent is more like Korean people now. Aku hanya bisa terkekeh. Ya gimana enggak, wong aku tinggal dan ngomong pakai bahasa itu selama tiga tahun di sini. Ckck, yang bener aja.

“Udah deh, jangan ngeledek terus. Kalau nggak, nanti oleh-olehnya nggak nyampe Jakarta nih, langsung aku buang ke sungai Han sekarang juga.”

“Dih, gitu aja ngambek. Baru aku katain aneh aja kamu udah ngambek, gimana kalau aku ungkit-ungkit lagi soal Rea, huh? Kamu pasti bakalan nendang aku ke bulan ya. Hahaha.”

Crap.

Di sela tawa ringan Nikky yang terdengar menyebalkan itu, aku menemukan diriku menghentikan langkah dan terdiam sejenak di tempat.

Rea?

Why so suddenly?

Mendengar Nikky kembali menyebutkan nama pria itu lagi setelah sekian lamanya membuat perasaanku jadi tidak karuan. I just don’t know, aku seperti kehilangan kata-kata. Ya, it’s already 3 years, but the impact he has made to my life is nothing to joke about. Nyatanya, Rea dan segala hal tentangnya masih membuatku merasa seperti ini. Bersalah setengah mati.

Mungkin tiga tahun lalu aku bodoh. Terlalu bodoh malah. Aku pergi meninggalkannya di saat kami sedang dihadapkan dengan banyak masalah yang rumit. Aku melarikan diri lebih tepatnya. Lari dari kenyataan yang seharusnya aku hadapi atau bahkan selesaikan.

Dan sekarang, setelah tiga tahun melarikan diri, kini kurang dari duapuluh empat jam lagi aku akan kembali ke Jakarta. Kembali ke hidupku yang sebenarnya. Kembali ke hidupku yang sempat aku tinggalkan tiga tahun lalu. Aku akan kembali bertemu dengan keluargaku dan mungkin juga kembali bertemu dengan pria itu lagi. To be very completely honest, it scares me so much. Ada banyak spekulasi yang melayang-layang di kepalaku saat ini. Apa yang akan terjadi selanjutnya setelah aku kembali bertemu dengannya? Apakah dia membenciku? Tidak mau melihat wajahku lagi? Atau malah sebaliknya? Aku sama sekali tidak tahu.

Yang aku tahu hanyalah, sebagian dari hatiku berharap aku bisa memperbaiki dan memulai semuanya dari awal lagi. Meminta maaf dan mengatakan kata penyesalan yang mungkin terlalu terlambat untuk dikatakan secara lantang setelah apa yang terjadi tiga tahun ini. Tapi, sebagian hatiku lagi tahu kalau semuanya tidak akan semudah seperti apa yang aku pikirkan. Aku tahu pria itu tidak akan semudah itu  memaafkanku.

Aku memang jahat.

Aku jahat karena aku tahu aku salah tapi masih berharap untuk di-maafkan. Aku egois karena masih berharap memiliki kesempatan.

Ah tidak, tidak. Aku buakan memang jahat. Tapi aku terlalu jahat.

“Da, are you okay?” Suara Nikky membuyarkan lamunanku. Aku mengerjap dan sadar kalau aku sudah terlalu lama termenung di tengah jalan. Sambil terkekeh kaku, aku kembali melanjutkan langkah menuju toko kosmetik Nature Republic yang tinggal beberapa meter lagi di hadapanku.

Tiba-tiba terdengar nada bersalah dari suara Nikky di seberang sana. “Da, sorry, aku beneran nggak maksud—”

“Nik, semuanya belum berakhir, kan?” Aku memotong kalimatnya.

Pedih. Tapi aku meyakini satu hal itu. Semuanya belum berakhir, Re.

You and him?” Tanya Nikky cepat, seolah tahu benar maksud dari pertanyaanku barusan.

Hmm, me and him.”

Sure. And I believe that you still have a second chance to start all over again, Da.” Lalu dia menjawab pertanyaanku dengan penuh keyakinan.

I wish, Nik.” Saat aku mengatakan hal itu, I really mean it.Three years ago, maybe I was too childish. I said goodbye to him and try to forget everything. But today or okay—tomorrow, seperti yang tadi sempat dikatakan Nikky padaku, I wish that I’m ready to say hello again and—yeah, still have the second chance to start all over again.

Sama seperti lagu Peterpan milik EXO yang mengiringi kedatanganku di toko kosmetik serba hijau ini; uri yaegin kkeuchi anhigeoya, dasi mannabol tenikka. Aku tahu dan yakin, it’s not going to be end of our story. Because… I’m going to meet you again, Re.

From ICN to CGK. 

Hello Jakarta, see you really soon.

***

 

 

Hello *sambil bersih2 debu di blog ini*

idk what it is, just… kangen nulis. hehe.

xoxo, mute.

Advertisements

One response to “CMS – RESTART

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s